Profile

Join date: Oct 28, 2022

About

Melihat Daya tarik Museum Negeri Aceh



Museum Aceh dijumpai telah berusia beberapa puluh tahun, karena pembangunannya dilaksanakan saat periode Hindu Budha. Sebelumnya tempat ini sebagai bangunan tempat tinggal tradisionil Aceh atau yang umum disebutkan Rumah Aceh. Beberapa koleksinya juga beberapa benda individu punya Stammeshaus curator museum Aceh di tahun 1915. Ada juga pusaka Aceh yang populer pada periode itu.


Selanjutnya pemerintahan di tempat resmikan Wisata Museum ini di tanggal 31 Juli 1915 dan diperkembangkan oleh pemerintahan Aceh. Sebetulnya arah dibangunnya museum ini untuk melestarikan budaya di tempat supaya tidak terlewatkan. Pada awalnya tempat ini berada di teritori Blang Padang. Tetapi koleksinya yang tetap semakin bertambah, membuat rekreasi ini dipusatkan di wilayah Aceh.


Semenjak tahun 1974 tempat ini sudah mendapatkan permodalan dari pemerintahan. Hingga banyak pembangunan gedung baru seperti laboratorium, gedung pameran, perpustakaan, dan ada banyak kembali. Di tahun 1975 pengurus memberikan museum ini ke Departemen Kebudayaan dan Pengajaran supaya terlindung secara baik. Sampai sekarang ini semua artefaknya selalu dilestarikan.


Lonceng cakra jadi koleksi yang terkenal karena umurnya telah capai beberapa ribu tahun. Dulu benda ini didapat dari Kaisar Cina Dinasti Ming pada era ke 15. Lantas di tahun 1524 Masehi lonceng ini dibawa ke Aceh oleh Sultan Ali Munghayat Sah. Terlihat bangunan besar yang dipakai membuat perlindungan lonceng cakra supaya tidak hancur.


Bangunan tiruan ini dibikin seperti rumah warga Aceh pada jaman dulu. Lantainya direncanakan dengan tinggi 9 kaki dengan disangga kayu jati. Memiliki bentuk seperti rumah pentas dengan corak warna merah dan hitam. Tiruan itu diproteksi dengan baik dalam Museum Negeri Aceh supaya pelancong bisa menyaksikannya untuk pelajari riwayat yang ada.


Benda ini berwujud senjata seperti keris, rencong, bamboo pering petuk, dan ada banyak kembali. Semua mempunyai nilai yang tidak terbatas karena simpan riwayat. Pada jaman dulu manusia purba banyak yang memakai senjata ini untuk lakukan beberapa aktivitas. Dalam pelindungannya juga petugas simpan benda ini dalam rack kaca supaya tidak hancur dan kotor.


Di pojok lain kelihatan beberapa uang kuno berbentuk logam warna perak atau berwujud kertas. Uang itu cuma berlaku di saat tempo dahulu dan sekarang ini tidak dapat dipakai. Oleh karena itu pemerintahan simpan uang ini dalam museum supaya kehadirannya dapat dirawat secara baik. Anda bisa juga membaca info penemuan uang kuno ini di tulisan yang sudah ada.


Bermacam patung yang ditampilkan dalam Museum Negeri Aceh memvisualisasikan muka beberapa pahlawan sebelumnya. Benda ini diatur rapi dengan diperlengkapi baju tradisi yang menambahkan kecantikannya. Ada juga aksesori yang dipertambah dimulai dari gelang, kalung, sampai aksesori kepala. Ini membuat koleksi itu makin memvisualisasikan budaya Aceh.


Di lantai 2 ada banyak dokumen kuno yang ditulis dengan aksara Arab, Jawa, Aceh, dan Melayu yang sempat terkenal pada era ke 17. Dokumen itu ada yang menceritakan kerajaan sebelumnya dan cerita perjuangan beberapa pahlawan. Tetapi, tidak seluruhnya orang dapat membaca isi pada dokumen itu karena tidak ada terjemahan text-nya.


Tujuan Museum Negeri Aceh pas ada di Jalan Sultan Mahmudsyah No 10, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Jaraknya benar-benar dekat sama lapangan terbang internasional Sultan Iskandar Muda, cuma memerlukan waktu sekitaran 30 menit untuk capai lokasinya. Pelancong dari beragam wilayah dapat bawa kendaraan individu atau sewa travel.


Bila Anda pergi dari arah mushola raya Baiturrahman karena itu dapat lempeng terus. Kelak akan kelihatan museum di samping kanan jalan. Lokasinya benar-benar vital dengan aspalnya yang telah mulus. Banyak juga kendaraan umum seperti transportasi umum atau ojek yang berakhir lalang. Pengunjung tak perlu takut tersasar karena banyak papan petunjuk jalan yang ada.


Saat sebelum masuk tempat museum bakal ada biaya ticket di muka pintu masuk. Tetapi tidak boleh cemas harga benar-benar ramah kantong cuma Rp 3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak. Biaya itu berlaku untuk hari selasa sampai minggu, karena tiap hari senin tutup. Anda dapat nikmati museum mulai pagi sampai sore hari.


Untuk pengunjung yang bawa kendaraan individu dikenakan karcis yakni Rp 3.000 untuk sepeda dan Rp 5.000 untuk beroda 4. Tempat parkirnya benar-benar luas dan dijaga ketat sama petugas di tempat. Saat hari liburan akan kelihatan beberapa orang yang padati tempat museum dengan bersama-sama dengan keluarga. Oleh karena itu Anda dianjurkan tiba mulai pagi.


Koleksi Museum Lubang Buaya memang mempunyai bermacam koleksi benda monumental yang paling unik. Ada yang ditempatkan dalam rack kaca hingga pelancong cuma dapat menyaksikannya dari jarak jauh. Di tempat luar ada juga beberapa benda yang dapat disentuh langsung oleh tamu. Anda akan dibikin kagum karena tiap ruangnya menyajikan koleksi yang berbeda.


Kegiatan ini lebih banyak dilaksanakan pengunjung saat liburan ke sini. Banyak beberapa spot bagus yang dapat menjadi latar belakang berpose, apa lagi bangunannya yang classic akan makin percantik photo Anda. Saat hari liburan terlihat beberapa traveller berganti-gantian selfie di setiap pojok museum baik di lantai bawah atau atas. Mengajak famili paling dekat supaya kegiatan ini makin hebat.

Sama seperti yang dijumpai jika Museum Negeri Aceh memiliki tempat yang luas, karena itu benar-benar pas untuk ditelusuri. Traveller dapat jalan kaki untuk menyaksikan setiap segi museum lebih dekat. Di sejauh kawasannya terlihat demikian bersih karena tidak ada sampah tertinggal. Petugas sediakan tempat duduk di tempatnya untuk pelancong yang kecapekan selesai berkeliling-keliling museum.


Tidak komplet rasa-rasanya bila liburan ke museum tapi tidak membaca info riwayat yang tercatat. Tulisannya komplet dimulai dari nama, tanggal diketemukan, dan sejarahnya. Semua keterangan itu benar-benar bermanfaat untuk ketahui budaya sebelumnya yang sempat masuk ke Indonesia. Beberapa wisatawan dapat menulisnya di buku atau memfotonya lewat handphone.

Claire Russell

More actions